Guru Magetan Menulis

Refleksi Hardiknas 2021  Untuk Merdeka Belajar dan Serentak Bergerak

519Views

Refleksi Hardiknas 2021  Untuk Merdeka Belajar dan Serentak Bergerak

Oleh : Eko Adri Wahyudiono

Peringatan dan perayaan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2021 dengan slogan dan tagar  “Merdeka Belajar” serta diikuti dengan upaya mewujudkan kegiatan  “Serentak Bergerak’ telah membahana di pelosok negeri. Banyak kegiatan seremonial dan event pendidikan muncul di dunia maya bagi insan pendidikan dan stakeholders pendidikan untuk tetap bersemangat dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia di masa depan.

Tantangan pendidikan di tanah air akan semakin berat seiring dengan perkembangan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) untuk menguasai teknologi, ekonomi, budaya dan masyarakat sosial secara global. Situasi yang diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang suka atau tidak telah membuat adanya perubahan dalam pola pendidikan di seluruh dunia termasuk di Indonesia.  Apabila pendidikan kita tidak segera berbenah diri, program menyiapkan generasi emas anak didik kita di tahun 2045  bisa jadi akan menjadi kegagalan dalam transfer of knowledge bagi generasi emas untuk masyarakat Indonesia yang lebih hebat.

Salah satunya adalah upaya peningkatan kualitas para guru melalui banyak program yang telah diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi.  Juga Tidak sedikit dana yang digelontorkan untuk membuat kualitas pendidikan di Indonesia agar tidak tertinggal dengan negara lain di dunia.  Menurut hasil survei PISA (Programme for Internasional Student Assesment) pada tanggal 3 Desember 2019,  Kualitas pendidikan Indonesia berada di urutan ke 72 dari 77 negara di dunia atau peringkat enam terbawah. Hal yang sungguh menyedihkan sekali.

Hasil survei tersebut membuat beberapa kritikus pendidikan di tanah air menjadi gerah dan secara terbuka di media masa selalu mengaitkannya dengan gaji guru, tunjangan profesi pendidik dan lainnya.  Kenapa setelah mendapatkan begitu besarnya insentif setiap bulan untuk para guru, justru kualitas pendidikan di tanah air tidak meningkat?  Pertanyaan itu terus menerus dilemparkan sehingga menimbulkan pro dan kontra dan menjadikan polemik di masyarakat.

Kualitas dan kompetensi para guru dilihat dan diukur dari hasil Uji Kompetensi Guru  (UKG) yang rerata hasilnya jauh dari passing grade yang ditetapkan dan diharapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Kita harus jujur, apakah UKG (Uji Kompetensi Guru) itu adalah alat ukur yang valid dan reliable untuk mengetahui kualitas seorang guru?  Apakah UKG itu adalah satu-satunya alat untuk mengukur prestasi seorang guru? Anda sebagai pendidik pastilah mempunyai argumentasi yang beragam. Bisa jadi setuju atau tidak juga dirasa sebagai  penilaian yang tidak adil tergantung dari sudut pandang guru dalam memahami konsep Long life education atau Life long education.

Bahwa kita selama dalam kehidupan ini dituntut untuk selalu belajar dan belajar, baik studying maupun learning termaktub dalam konsep Long life education. Sedangkan konsep belajar sepanjang hidup atau hayat kita sebagai manusia cenderung pada konsep Life long education. Dikatakan sudah belajar bila mengalami perubahan pola pikir, dan perilaku dalam ranah kognitif, psikomotorik maupun afektif. Bila kita para guru atau anak didik belum mengalami perubahan atau mau berubah, itu pasti sedang dalam proses belajar.

Melihat berbagai permasalahan dan tantangan ke depannya, Mendikbud,Riset dan Teknologi kita, Mas Nadiem Anwar Makarim, menyadari betul bahwa perubahan pendidikan di Indonesia untuk menjadi lebih hebat hanya bisa terjadi melalui kebebasan dalam belajar atau dalam istilahnya Merdeka Belajar. Kita sebagai guru harus ingat bahwa Subyek (Hal yang utama dan terpenting) dari pendidikan kita adalah anak didik itu sendiri. Seberapa besar meningkatkan kualitas para pendidik, jika mengabaikan anak didik sebagai output pendidikan yang berkualitas, akan menjadikan suatu perubahan yang timpang.

Setiap sekolah pastilah sudah menyiapkan 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi 1 Standar isi, 2. Standar proses, 3. Standar kompetensi lulusan,  4. Standar pendidik dan kependidikan, 5. Standar sarana prasarana, 6. Standar pengelolaan, 7. Standar  pembiayaan, 8. Standar Penilaian.  Bilamana pelaksana program SNP dari sekolah sebagai satuan pendidikan berhasil, itulah yang disebut outcome pendidikan dan perlu ditularkan secara  intensif  kepada sekolah lainnya agar kualitas pendidikan bisa merata di seluru pelosok tanah air.

Memang semua elemen pendidikan dalam hal ini, baik masyarakat, orang tua, komite sekolah, pemerintah, pihak swasta dengan CSR -nya (Corporate Social  Responsbilty), pemerhati pendidikan, guru dan anak didik adalah stakeholders yang membentuk bangunan pendidikan kita tidak henti-hentinya berjuang bersama demi pendidikan yang lebih baik.  Semua elemen harus bergerak serentak dan bersama-sama dalam mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sudah bukan zamannya lagi bahwa pendidikan anak didik hanya menjadi tanggung jawab para guru di sekolah. Semua pihak harus mempunyai tanggung jawab bersama terhadap peningkatan pendidikan di tanah air.

Bila semua itu sudah dilakukan, baru kita bisa mengatakan  Merdeka Belajar. Konsep yang banyak diintepretasikan dengan berbagai definisi oleh masyarakat. Seolah-olah, merdeka belajar adalah kebebasan mau belajar, menuntut ilmu, sekolah atau tidak adalah hak individu dari setiap insan. Bila hal itu dianggap benar adanya, alangkah dangkalnya bagi mereka yang mempunyai pemikiran yang demikian itu.

Merdeka belajar justru memberikan kebebasan pada anak untuk belajar pada waktu yang mereka suka dan mendapatkan materi pembelajaran yang bisa diakses dari sumber mana pun serta kapan dan di mana saja yang anak didik mau. Diharapkan hal seperti itu membuat anak semakin termotivasi untuk saling asah, asuh dan asih di antara mereka sendiri. Kegiatan belajar secara individu, in-pairs, atau kelompok akan membuat pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan tanpa dibatasi dengan sekat waktu, ruang, kelas atau tingkat dalam menguasai materi pelajaran.

Pembelajaran dalam jaringan atau on-line dan penguasaan pengajaran berbasis Informatika Teknologi ( IT) sudah merupakan satu keniscayaan di era pandemi Covid-19 ini dan harus dikuasai oleh semua guru dan anak didik tak terkecuali. Semua stakeholders pendidikan juga harus bergerak bersama-sama sehingga bisa membuat revolusi di dunia pendidikan kita menjadi lebih hebat. Bila bergerak secara sporadis, anggap saja perubahan terjadi lambat (evolusi) pada pendidikan kita sehingga ditakutkan menjadi tertinggal lagi dibanding dengan kualitas pendidikan seperti negara-negara lainnya di dunia.

Sekecil apapun perubahan yang dilakukan menuju ke arah yang lebih baik namun dilakukan oleh setiap individu insan pendidikan secara serentak dari Sabang sampai Merauke akan mempunyai dampak yang luar biasa bagi perkembangan kualitas pendidikan kita dan sumber daya manusia Indonesia.  Ujung tombak pada kegiatan merdeka belajar dan serentak bergerak ini adalah para guru atau pendidik di tanah air. Keberhasilan atau kegagalannya terletak pada bahu mereka semua dan tentu harus selalu ingat untuk selalu menempatkan para anak didik kita sebagai Subyek pendidikan menuju generasi emas 2045.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2021.  Selamat berjuang wahai para pahlawan tanpa tanda jasa!

 

 

Eko Adri Wahyudiono
Guru SMA 1 Magetan, Jawa Timur

13 Komentar

  • Benar, Pak Eko! Keberadaan Covid-19 telah menumbuhkembangkan tatanan baru dunia pendidikan. Bersama Covid-19, tereksplorasi kecerdasan lain yang potensinya sudah disefiakan Allah, sikonlah sebagai penantangnya. Oleh sebab itu, selayaknya “Alhamdulillah dalam segala hal.
    Maju terus Pak Eko, tentu Pak Eko bagian dari guru penggerak ya? Ayo, pers8apkan generasi emasnya.

    • Trimakasih, bu..saya sudah mau pensiun, bu..he.he..biar yang guru muda saja yg menjadi guru penggerak seperti Anda..salam

  • Benar. Tantangan yang semakin berat untuk guru-guru. Semoga kita bisa menjalaninya. Aamiin.

    • Iya, bu..ke depannya akan semakin berat tantangannya. Bismillah kita bergerak bersama bu..Salam

  • Mantap tulisannya pa EA.. betul sekali bahwa pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, orang tua, masyarakat dan komunitas lainnya. Program pendidikan sebagus apapun akan sangat sulit untuk mencapai cita-cita pendidikan jika hanya guru yang dituntut untuk mewujudkannya. Salam dari MGMP B. Inggris Majalengka Jawa Barat.

    • Terimakasih apresiasi dari MGMP Majalengka, JaBar..wow luar biasa. Betul..selama ini hanya guru sebagai kepanjangan pemerintah yang bertanggung jawab penuh pada pendidikan anak didik. Mari bergerak serentak untuk mewujudkan merdeka belajar anak didik..salut dan salam

    • Sepakat, Pak. Sudah waktunya semua elemen ikut bergerak serentak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri kita ini. Konsep merdeka belajar juga perlu dipahami secara utuh oleh semua pihak agar tidak keliru dalam mengimplementasikannya.

  • Tulisan yang sangat bernas pak. Merdeka belajar, belajar supaya merdeka dari segala bentuk penjajahan. Kemiskinan, kebodohan, dekadensi moral dst.

    • Trimakasih apresiasinya..itu lah tugas guru di zaman milenial ini, bu..semakin berat namun menjadi ringan saat kita bergerak serentak..salam

  • Bicara output yaaa… Kami di sekolah swasta sangat terasa “membenahi” Siswa kami yg heterogen.. Bahkan ada yg perlu atensi khusus sampe yg ortu give up thdp perilaku anaknya sendiri. Pendidikan itu berawal dari Rumah. Sejak pandemi, orangtua di rumah mjd kunci sukses PJJ anak2nya. Dari situ Kami bisa tau, spt seleksi alam, bahwa TERNYATA banyak dari siswa yg kondisi rumahnya kurang baik. Kami hampir tdk memiliki case siswa masalah ekonomi, kalaupun ada, itu msh batas sangat wajar. Jd utk siswa dr kelas menenengah ke atas, sudah layak sekolah menuntut lebih dr mereka utk tetap sinkron dan patuh dgn sekolah. Tapi, pada prakteknya tidak. Alih2 berargumen bahwa “PJJ repot, ortu hrs mjd peran guru”, ” PJJ bosan, tugas melulu”, padahal diam2, memang keseharian para ortu ini yg kurang sinkron dgn anaknya sendiri, padahal diam2 memang MENTAL yg kurang kuat. Bayangkan ini terjadi pada sekitar minimal 50 siswa, sebutlah ini hasil seleksi alam PJJ, kami hanya bisa meredam standar tinggi mjd level biasa. Mimpi Guru seringnya memang mimpi belaka.

    Jd menurut saya, yg hrs dibenahi adalah pendidikan di rumah, mental siswa, profesionalisme guru, dan gaji guru. Bukannya gaji guru tidak penting, tapi pembentukan BRAIN BEAUTY BEHAVIOUR anak itu berangkat dari RUMAH. Jgn lagi menitik beratkan pada pendidik dan sekolah. Ingat, tidak semua sekolah memiliki siswa yg effortless dlm belajar.

    Artikel yg bagus pak, menggugah sekali utk sama2 berpikir dan share pendapat. Mohon maaf jika ada keliru yaa.. Semoga kita akan tetap diberikan kekuatan utk melangkah memajukan pendidikan negeri ini. Aammiin

    • Terimakasih apresiasinya, bu..ulasan dan tanggapan ibu juga luar biasa, malah bisa jadi satu artikel tersendiri dari sudut pandang lain dari sekolah swasta yang banyak menemukan permasalahan dalam proses belajar mengajar. Tetap semangat, bu..salam hormat.

  • Mantap penjabaran merdeka belajarnya Pak. Tidak melulu dari buku saja. Dari mana saja bisa belajar dengan mengakses dari sumber mana pun. Asal mereka mau belajar. Dukungan orang tua juga diperlukan. Salut Pak…

Tinggalkan Balasan