Guru Magetan Menulis

Menanamkan Metode Inquiry dan Self Discovery Learning pada anak didik di Era Pandemi

497Views

Mencermati masa proses belajar mengajar online atau daring (dalam jaringan) yang diperpanjang lagi sampai awal bulan Januari 2021 dikarenakan belum meredanya penyebaran wabah virus corona dengan adanya varian virus corona yang baru, saya mencoba untuk mengobservasi beberapa tugas yang saya terima dari anak didik saya selama semester gasal ini.

Ada banyak alasan kenapa materi pembelajaran dikirimkan dan kemudian mereka diberikan penugasan mandiri, itu semata agar materi pembelajaran bisa tersampaikan tuntas walaupun bukan dalam kondisi tanpa tatap muka di kelas secara langsung.  Juga agar anak didik selalu belajar dan tetap tinggal di rumah demi menjaga kesehatan mereka.

Dari beberapa tugas yang saya berikan, keikutsertaan anak didik dalam menyelesaikan materi pembelajaran dalam proses belajar mereka sendiri atau self learning adalah hal yang patut diapresiasi tinggi walaupun intensitas kerajinan sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Nah, apa sih bedanya studying dan learning?

Perlu dipahami dulu bahwa  Studying process itu adalah saat kita sedang ada di sekolah dengan kelas klasikal dan konvensional melalui tatap muka dengan guru dan siswa untuk transfer of knowledge. Sedangkan untuk learning process adalah kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa sendiri dalam mencari tahu dari jawaban akan pertanyaan yang muncul dari dirinya sendiri atau soal yang didapatkan.

Dari perbedaan antara studying dan learning di atas, kita sebagai guru akan mengetahui keberhasilan materi pembelajaran online kita berdasarkan internal motivation dari dalam diri murid itu sendiri untuk belajar. Saat guru memberikan materi dan murid menerima kemudian mencari atau menemukan jawaban sendiri melalui proses mencari, mengidentifikasi, menjawab dan mengambil kesimpulan itulah yang disebut dengan Inquiry dan Self Discovery Learning.

Menurut Syafrudin Nurdin, metode inquiry discovery learning adalah “suatu metode yang dapat disusun oleh guru dalam proses belajar mengajar, sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Melalui metode ini siswa akan mampu mengembangkan rasa ingin tahunya, dan keberanian berpartisipasi dalam proses belajar mengajar”. (Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: PT Intermasa, 2002)

Seberapa keras seorang guru berusaha untuk mencapai hasil yang maksimal dalam proses belajar dalam jaringan (daring) ini, semua tergantung dari learning spirit anak didik kita. Murid yang mempunyai semangat belajar yang tinggi dan motivasi untuk berhasil di masa depan bagi diri mereka sendiri dipastikan akan memetik buah keberhasilan dari hasil usahanya selama proses inquiry discovery learning ini.

Namun sebaliknya, anak didik yang belum mampu dan selalu tergantung pada pembelajaran konvensional, mau tidak mau, akan mengalami kesulitan dalam penguasaan materi yang diberikan melalui jaringan belajar (daring). Jadi, proses pembelajaran inquiry discovery learning juga mempunyai kelemahan dan kelebihannya dalam situasi belajar online karena masa pandemi ini.

Coba amati saja alur inquiry discovery learning ini : sintaks 1: Stimulation, Sintaks 2 : Problem statement, Sintaks 3 : Data collection, Sintaks 4 : Data processing, Sintaks 5 : Verification, Sintaks 6 : Generalization. Dari alur tersebut, guru hanya berada di posisi sintaks 1, yaitu stimulation (stimulus), dimana peranannya dalam pembelajaran adalah memberikan stimulus atau rangsangan berupa materi atau penugasan dari permasalahan kepada siswa dan evaluation (penilaian) di akhir alur semua sintaks. Sedangkan siswa sendiri, ada di posisi sintaks 2 sampai dengan sintaks 6.

Jika lebih dicermati, anak didik kita mempunyai kesempatan untuk mulai mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data dari masalah yang diberikan guru, memproses data dari berbagai sumber belajar, mencocokkan data dan mengambil kesimpulan. Apabila anak didik kita mampu mengerjakan tugas dengan alur tersebut, maka mereka dapat dipastikan sudah mempunyai inquiry discovery learning spirit dan mereka akan mampu juga untuk mengerjakan semua soal dengan kesulitan berpikir tingkat tinggi atau model HOTS (Higher Order Thinking Skills).

Namun, bagi murid yang lemah motivasi dan semangat belajarnya dan menganggap bahwa belajar dalam jaringan adalah kesempatan untuk bisa mendapatkan liburan dan menyalahkan artikan istilah merdeka belajar, mereka akan terus menerus merasa kesulitan dalam menerima transfer of knowledge dari guru mereka. Bahkan saat diberikan penugasan untuk kecakapan hidup (life skills) mereka di masa depan oleh guru, ada banyak anak didik yang dengan berbagai beralasan untuk menghindari metode ini.

Tugas guru sebagai pendidik adalah tetap dan selalu konsisten untuk memberikan external motivation kepada anak didiknya agar timbul internal motivation-nya  untuk menjaga inquiry dan self discovery dalam belajar mandiri.  Bismillah !

Awal Januari 2021

Eko Adri Wahyudiono
Guru SMA 1 Magetan, Jawa Timur

Tinggalkan Balasan