Guru Magetan Menulis

Mengenali Kecerdasan Anak Didik menurut Howard Gardner di Masa Pandemi

982Views

Rasanya bulan Maret 2021 ini, sudah genap satu tahun kegiatan belajar mengajar konvensional, yaitu pembelajaran tatap muka di semua sekolah digantikan dengan pembelajaran dalam jaringan (daring). Kegiatan pembelajaran online sudah menjadi keniscayaan bagi stakeholders sekolah.

Penyampaian materi secara daring bagi anak didik di sekolah menjadikan suatu trial and error, baik bagi guru, murid, kepala sekolah dan dinas pendidikan terkait untuk mencari satu rumusan atau formula proses belajar mengajar daring yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi anak didiknya.

Apabila ditanyakan tentang daya serap dan target pencapaian proses pembelajaran daring akan serta hasil keterukurannya pastilah belum reliable dan valid secara maksimal, namun target minimal pencapaian belajar dan penguasaan materi pada anak didik haruslah tetap terpenuhi. Meskipun proses berjalan dengan tertatih dalam  mencari metode dan sarana yang tepat selama pembelajaran online, faktor kecerdasan murid haruslah tetap dikenali untuk mencapai hasil yang maksimal selama masa pandemi Covid-19 ini.

Tidak terkecuali orang tua murid, murid sendiri juga secara perlahan kehilangan pegangan dalam proses transfer of knowledge ini. Apalagi dari pihak para guru. Mereka bahkan harus ber-jibakutai (mati-matian) mencari solusi yang solutif bagaimana memberikan materi dan tugas pada murid dengan tanpa membebani kesehatan dan pikiran mereka secara fisik.

Untuk itu, meskipun penguasaan materi pelajaran pada anak didik kita tidak maksimal, tidak ada salahnya untuk mengenali kecerdasan mereka. Murid sendiri juga harus mampu mengenali potensi diri mereka sendiri (inquiry and self discovery learning) serta tingkat kecerdasan ganda dirinya. Ingat, pada prinsipnya, otak manusia dibagi 3 bagian, otak kiri untuk logika matematis, otak kanan untuk kinestetik dan menghafal dan terakhir adalah otak belakang untuk menyimpan data sebelum membuat atau setelah mengambil keputusan bertindak.

Menurut Howard Gardner, seorang Profesor dari Harvard University, ada lebih dari  7 kecerdasan pada anak baik secara terpisah maupun, lebih hebatnya, secara berganda tingkat kecerdasan mereka.  Maaf, cerdas di sini bukan hanya diartikan dilihat dari hasil saat mendapatkan nilai angka raport dan berlogika yang tinggi saja, namun juga harus memperhatikan tolok ukur kecerdasaan lainnya. Kali ini, kita meringkasnya ke dalam tujuh kecerdaaan saja dalam pembahasan.

Apa saja ringkasan tujuh dari Kecerdasan anak didik kita?

Yang pertama adalah kecerdasaan Lingusitik. Anak yang mampu menguasai banyak bahasa dan istilah kerennya adalah Polygot. Mereka mampu berpidato, debat, menyampaikan uraaian dan tutur katanya halus serta runtut secara gramatikal. Letakan saja kelak mereka bisa menjadi guru, diplomat pada golongan ini.

Kedua, adalah kecerdasan Matematis. Kemampuan berlogika dan menghitung melebihi kecepatan anak didik normal lainnya. Mereka mempunyai pola visual tersendiri dalam menganalisa setiap permasalahan untuk mengambil keputusan. Pantas untuk diarahkan pada jurusan teknik sipil, peneliti atau teknik mesin

Untuk yang ketiga adalah kecerdasan Visual. Anak yang suka memperhatikan dan membuat sketsa berdasarkan imajinasinya. Anak didik di golongan ketiga ini bisa menjadi arsitek, desainer dan lainnya. Peneliti sosial dan lingkungan atau bisa jadi seniman.

Pada golongan keempat adalah kecerdasan Kinestetik. Anak didik di kelompok ini mengutamakan fisik dan menjaga ketrampilannya melalui banyak kegiatan olahraga atau yang berhubungan dengan fisik. Jelas, masuk militer adalah solusi yang tepat setelah disesuaikan dengan bakat dan minatnya.

Kecerdasan Musikal adalah yang kelima. Jiwa seni pada anak didik ini sangat mendominasi dirinya. Kemampuan untuk memainkan semua jenis alat musik atau menari adalah hidupnya. Bila dikembangkan, akan menjadikan seorang musisi atau penari (seniman) yang luar biasa di masa depan.

Keenam adalah kecerdasaan Intrapersonal dan interpersonal. Anak didik dengan kecerdasan ini sangatlah unik. Kematangan emosionalnya patut diapresiasi. Dia bisa memahami dirinya sendiri dan juga orang lain. Guru bimbingan dan konseling, penyair atau psikolog adalah karir yang tepat bagi dirinya. Tipe ini suka menulis sastra juga  seperti novel atau puisi.

Yang ketujuh adalah kecerdasaan Naturalis. Dari istilah itu, bisa ditebak bahwa pemilik kecerdasaan ini pastilah suka dengan tantangan alam. Aktifitas pramuka, mendaki gunung, memelihara hewan atau tanaman adalah jiwanya. Tepat diarahkan pada jurusan kehutanan, pertanian atau peternakan.

Mencermati 7 kecerdasaan di atas,  pada prinsipnya, kita sebagai guru tidak perlu memaksakan anak untuk mengusai semua mata pelajaran yang diajarkan oleh semua guru secara maksimal. Beri mereka kesempatan untuk mengenali potensi kecerdasannya. Bisa jadi kecerdasan ganda yang dimaksud Gardner adalah setiap anak didik kita mempunyai lebih dari satu kecerdasan.

Sebagai misal, Ada satu murid yang mempunyai kemampuan berbahasa dengan lancar, bahkan sering diikutkan lomba pidato atau debat, namun dia juga memiliki kemampuan bermain musik yang luar biasa. Bahkan lagi, bila diamati, ternyata dia juga pemain basket sekolah. Belum lagi kecerdasaan lainnya lagi bila memiliki. Itu artinya, anak didik itu mempunyai kecerdasan ganda seperti yang dijelaskan dalam teori Gardner.

Misal yang lain, Anda tentu kenal dengan para tokoh atau musisi group band dari Inggris, yaitu Queen? Mereka adalah Freedy Mercury, Brian dan lainnya. Lagunya yang populer, Bohemian Rhapsody, Love of my life, We are the champion dan seterusnya.  Mereka semua mempunyai kecerdasan musikal dan matematis. Para anggota group band adalah lulusan fakultas Perguruan tinggi ternama dengan jurusan Astrofisika, Kedokteran gigi,  filsafat dan seterusnya.  Itu artinya, adalah ada satu kecerdasan dari setap mereka yang menonjol untuk bekal hidupnya kelak. Itu yang harus dikenali oleh kita sebagi guru, pengajar dan pendidik untuk mengenali fenomena teori Gardner ini.

Saya pribadi sangatlah yakin, bahwa setiap murid kita pastilah mempunyai kecerdasan lebih dari satu.  Tugas kita sebagai guru hanya memberikan kesempatan pada siswa untuk mengenali dan menggali potensi kecerdasaan yang mereka miliki. Keberhasilan anak didik kita tidak ditentukan oleh nilai atau angka raport yang tinggi serta perguruan tingginya, namun semua terkembali pada diri anak didik sendiri dalam memaksimalkan kecerdasannya untuk life skills mereka sendiri di masa depan

Salam hormat

Eko Adri Wahyudiono

SMAN 1 MAGETAN

Sumber referensi materi dari wikipedia

Eko Adri Wahyudiono
Guru SMA 1 Magetan, Jawa Timur

6 Komentar

Tinggalkan Balasan