Guru Magetan Menulis

Biarkanlah Murid Kencing Berlari

271Views

Biarkanlah Murid Kencing berlari

Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari”. Itulah kalimat bijak dalam pepatah yang selengkapnya. Maknanya berisi nasihat dan pembentukan budi pekerti yang baik, luhur dan sopan santun tentunya. Akan tetapi, sesungguhnya menjadi sangat berat tugas sebagai guru apabila semua perilaku negatif  para anak didik adalah suatu kepastian dari refleksi atau cerminan perilaku guru itu sendiri.

Dua dari  tiga tugas guru yang tidak kalah pentingnya setelah Bidang profesi dan bidang Kemanusiaan adalah pada bidang Kemasyarakatan.  Kenapa begitu? Karena pada bidang ini, guru selalu dituntut untuk memberikan suri tauladan yang baik di masyarakat.  Juga, harus aktif dan ikhlas sebagai dinamisator dan fasilitator dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Bandingkan saja dengan tugas guru hanya sebagai satu profesi, adalah 1. Menyiapkan materi dan rencana pembelajaran, 2. Menguasai dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dan 3. Terakhir melakukan evaluasi (penilaian).  Dengan melakukan ketiga hal tersebut, seorang guru sudah pantas disebut sebagai guru yang professional. Apakah semudah itu?  Bagaimana dengan masalah moral dan perilaku guru itu sendiri?  Apakah  tidak tercakup secara eksplisit atau gamblang pengaruhnya pada anak didik baik langsung maupun tidak?

Evaluasi hasil pembelajaran adalah refleksi dari penyampaian kegiatan penyampaian bahan ajar pada anak didik dalam periode dan tingkat yang berjenjang serta berkelanjutan menjadi satu rangkaian utuh yang terpisah-pisah.  Mau bukti?

Cermati saja, kenapa bisa bahan atau materi yang diajarkan tidak mempunyai korelasi pada alat ukur dalam kegiatan evaluasi berupa pemberian tes tulis, tugas atau lisan?  Sudah sesuaikah dengan Kompetensi Dasar (KD) yang sudah ditentukan?  Hasilnya?, Semakin tidak membumi (realistis) saja dalam penulisan angka di raport siswa.  Seperti ada inflasi nilai raport tak kentara saat ini.

Ibarat didiagnosa sakit kanker usus tetapi ditulis hanya masuk angin. Bisa ditebak selanjutnya, obatnya pasti salah karena katakanlah guru sebagai dokter pendidikan telah melakukan diagnosa salah karena bisa jadi atas perintah direktur rumah sakit yang ingin kotanya mendapat penghargaan sebagai kota tersehat dibanding kota lainnya di seluruh negeri. Hal itu bisa  dibuktikan dengan data minimnya penduduk yang sakit parah. Bias dan aneh, kan?

Sesungguhnya, tugas guru yang paling berat adalah di bidang kemanusiaan.  Bagaimana harus mencerdaskan, memperlakukan dan membimbing anak didik menjadi manusia yang seutuhnya adalah proses memanusiakan anak manusia dengan cara yang manusiawi pula. Di sini, peran guru menjadi sangat dominan. Proses ini disebut “Pendidikan sejati” karena kegiatan mendidik yang benar akan mengubah pengetahuan, keterampilan dan afeksi anak didik menjadikan mereka manusia yang Pancasilais.  Sesungguhnya, ini semua adalah tanggung jawab moral para guru. Jadi masyarakat dan orang tua , sebaiknya jangan melihat dari tingginya nilai angka di raport anaknya saja sebagai penentu keberhasilan mereka kelak. Tidak ada jaminan bahwa angka bagus di raport akan membuat anak didik sukses kelak dalam karir dan kehidupannya.

Okay, anggap saja para guru itu sebagai guru kursus mengemudi mobil. Selama mengajari anak didik agar mampu mengemudi mobil secara mandiri dalam kurun waktu yang ditentukan.  Begitu  tiba saatnya mereka dinyatakan lulus dan mendapatkan ijazah (SIM A). Pertanyaan yang menggoda selanjutnya adalah, benarkah mereka sudah yakin terampil, tahu mesin mobil dan mampu mengemudi mobil di jalan raya secara mandiri?

Jangan-jangan, kita semua menutup mata. Asal, mereka yang kursus mengemudi dan sudah membayar lunas, segera diajari untuk diberi pelatihan teori dan praktek.  Begitu periode pembelajaran selesai, segera kita putuskan untuk  dinyatakan lulus semua.  Masalah mereka sebenarnya bisa / terampil atau tidak mengemudi, mau selamat atau celaka, biarkan sajalah. Biarkanlah takdir dan nasib pada kehidupan ini yang mengaturnya, Toh, materi sudah disampaikan dan itu artinya, tugas guru kursus sudah dilaksanakan. Titik!

Lucunya lagi, kita sebagai gurunya yang menentukan bahwa mereka semua sudah bisa mengemudi mobil secara mandiri, kita sendiri  sebagai guru pasti akan menolak saat diajak bepergian ke luar kota dan anak didik kita yang menjadi pengemudinya. Jikapun ikut, kita memilih menjadi pengemudinya atau jika terpaksa anak didik kita yang sudah lulus tadi menjadi pengemudinya, Air conditioned (AC) sedingin apapun tetaplah tidak akan bisa mencegah keringat dingin menetes di kening dan leher kita sebagai penumpangnya.

Oleh karena itu, terkadang, sebagai guru, kita juga harus membiarkan anak didik kita bila mereka ingin kencing berlari meskipun kita tidak mengajarinya.  Bila mereka menjadi begitu karena melihat kita sebagai guru yang kencing berdiri, itulah konsekuensi moral dari jabatan profesi kita sebagai guru yang saat ini menjadi tarik ulur banyak pihak yang berkepentingan.

Yakinlah, bahwa murid kencing berlari itu bisa dimaknai dengan hal positif pula. Anggap saja mereka agent of change ( agen perubahan) pada kehidupan dirinya di masyarakat untuk hal yang  positif . Mereka berani mencoba satu hal baru, suka menerima tantangan, berfikir kreatif dan bertindak cerdas. Coba kita cermati saja murid-murid kita yang dalam tanda kutip sudah kencing berlari, yaitu mereka yang berani mengambil resiko (Risk Takers) dalam hidup ini seperti menjadi pejabat publik atau karir, menjadi anggota perwakilan rakyat, pengusaha, direktur perusahaan dan banyak lainnya, itu semua adalah buah keberanian untuk berfikir dan bertindak mereka yang berbeda dari murid lainnya. Biarlah anak didik kita belajar dari kesalahan  dan kegagalan yang diperbuatnya. Itu juga “guru” yang terpercaya.

Mereka berani berfikir dan bertindak out of the box ( di luar kebiasaan umumnya).  Bisa jadi kegagalan dan keberhasilan akan saling menemani dirinya, namun hal itu malah membuat mereka  menjadi pribadi yang semakin tangguh.  Anggap saja, saat mereka menjadi pengemudi pemula, pastilah trial dan error akan menemani mereka.  Katakanlah, saat  mobil menyerempet pohon, atau menabrak sesuatu, adalah sesuatu hal biasa untuk pembelajaran resiko dalam dirinya demi perjalanan hidupnya. Toh, yang akan memperbaiki adalah orang tuanya. Mantap, kan?

Jangan membandingkan kita sebagai gurunya, malu belajar karena merasa sudah tua adalah ibarat kencing berdiri. Jika guru berhenti belajar, sebaiknya juga berhenti mengajar anak didik di kelas. Anggap saja kita ingin belajar mengemudi mobil di usia tua. Keberanian sudah mulai berkurang dan bahkan hilang, kecemasan selalu menghantui saat masuk mobil atau belum lagi bila menabrak sesuatu.  Kepanikan akan menghantui bila membayangkan biaya perbaikan mobil yang rusak membuat imajinasi kita penuh perhitungan untuk pengajuan dana simpan pinjam koperasi.

Sudahlah!, biarkan sesekali murid kencing berlari karena kita sebagai guru juga kencing berdiri.

Salam

Eko Adri Wahyudiono
Guru SMA 1 Magetan, Jawa Timur

4 Komentar

Tinggalkan Balasan