Guru Magetan Menulis

Computational Thinking dan Compassion pada Kurikulum 2013.

410Views

Oleh : Eko Adri Wahyudiono.

Kita sebagai guru juga bagi peserta didik, harus tahu apa nih perubahan dari Kurikulum 2013 atau  Penambahan istilah 2 C tersebut secara otomatis akan membuat paradigma pendidikan di negeri ini juga akan berubah.

Sebelumnya, pada K-13, kita sudah mengenal 4 C, yaitu COMMUNICATION, COLLABORATION, CRITICAL THINKING dan CREATIVITY. Ada penambahan istilah 2 C lagi yaitu, COMPUTATIONAL THINKING dan COMPASSION.

Anda semua pasti tahu, apa yang dimaksud dengan Communication?, Yaitu suatu kegiatan mentransfer sebuah informasi baik secara lisan maupun tulisan. Bagi siapa?, ya untuk guru beserta siswa itu sendiri. Harus ada komunikasi 2 arah dalam transfer of knowledge di sekolah antara guru dan siswa.

Bagaimana dengan Collaboration ? itu adalah bagaimana guru dan siswa bisa bekerja sama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab baik di kelas maupu semua kegiatan di sekolah.

Sementara untuk Critical Thinking, ini bagian yang sangat penting, yaitu bagaimana memberikan kesempatan pada anak didik kita untuk berfikir kritis di kelas. Biarkan mereka untuk mengembangkan pendapatnya bedasarkan logika dan imajinasinya. Tugas guru hanya mengarahkan pada fakta, norma sosial dan agama serta mencari problem solving pada banyak masalah kehidupan yang terjadi di masyarakat.

Yang terakhir adalah Creativity, yaitu kemampuan yang harus dikembangkan dan dimiliki oleh para siswa untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru dari sudut pandang yang berbeda serta bisa menerima perbedaan daya kreatifitas orang lainnya pula.

Nah, sekarang apa yang dimaksud dengan Computational Thinking itu ?

Banyak yang berusaha menjelaskan hal itu. Kalau mengacu pada Wikipedia, Istilah Computational Thinking (CT) ini bukanlah hal yang baru, karena sudah diperkenalkan oleh Seymour Papert pada tahun 1980 dan juga tahun 1996, namun terhitung tahun 2014, Pemerintah Inggris memasukan CT ini ke dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah karena mereka percaya bahwa CT ini akan dapat membuat siswa menjadi lebih cerdas dan memahami masalah di sekitar mereka untuk bisa mencari solusi melalui tehnologi secara lebih cepat dan tepat. Kemudian baru di susul Negara lain seperti Amerika, Jepang, Korea, China dan Australia. Sedangkan kita, baru akan menggunakannya terhitung pertengahan tahun 2020 karena CT mempunyai peran penting dalam penggunaan aplikasi komputer yang hal ini mendukung pemecahan masalah semua disiplin ilmu termasuk humaniora, matematika, ilmu pengetahuan dan sosial.

Saya yakin, semua bapak ibu guru terhitung minggu lalu sudah mulai simulasi dan latihan soal soal berbasis CBT (Computer Based Test) untuk mencoba soal dalam AKM-Assessmen Kompetensi Minimum untuk siswa kita semua di tahun depan sebagai pengganti UNAS.  Kurang lebih soal-soal yang dimaksud mas menteri dalam Computational Thinking (CT) adalah seperti yang bapak ibu kerjakan itu. Semua soal berpadu jadi satu (Integrated Test).

Pertanyaan selanjutnya, apakah bapak ibu guru sudah menggunakan CT tersebut dalam pembelajaran di kelas ? Jawabannya adalah tentu saja sudah, hanya saja bapak ibu guru mungkin tidak menyadarinya saat melakukannya ( subconcious). Jika anda ingat Problem Based Learning (PBl), itu merupakan elemen penting dari pendekatan STEM ( Science, Technology, Engineering and Mathematics). Itu semua sudah dilakukan oleh bapak dan ibu guru walaupun hanya beberapa orang saja ,terutama guru MIPA dan Matematika.Apalagi saat ini bahkan sudah dikembangkan ke arah “STEAM’, dimana huruf “A” adalah ARTS (seni).

Coba kita ingat-ingat lagi, sudahkan kita sebagai guru melakukannya dengan memberikan soal jenis HOTS ( Higher Order Thinking Skills) pada siswa anda agar mereka menjadi semakin cerdas ?

Yang terakhir, apa yang dimaksud dengan Compassion ? Mendikbud ingin menekankan pentingnya “The man behind the gun”. Yaitu manusia dibelakang Komputer, Pengajaran, Evaluasi dan banyak lainnya dalam kehidupan ini. Mereka semua harus mempunya “Kasih sayang” dan “Hati nurani” yang nantinya mengarah pada pembentukan karakter anak didik kita di zaman yang serba digital ini. Sebelumnya ada artikel saya dengan judul, “Saat robot mengambil alih peran guru”. Apakah para guru siap bila digantikan dengan robot? Sejujurnya hal itu sudah terjadi secara de facto, dimana anak didik lebih percaya dengan search engine, misalnya google daripada pada gurunya itu sendiri.

Karena “para robot” itu tidak mempunyai HATI seperti kita para guru makanya dimasukkanlah aspek COMPASSION dalam perubahan K-13 dalam pembelajaran. Yakin lah bahwa si pembuat aplikasi Google, Amazon, Go- jek dan Facebook serta banyak aplikasi lainnya itu adalah orang-orang yang bisa disebut orang “sangat cerdas”. Mereka mempunyai “hati dan kasih sayang”. Berkat keuletan, kreatifitas, inovasi dan kecerdasannya membuat hasil kreasi aplikasinya itu dipakai secara global. Mereka semua yang disebut “orang cerdas” itu sebenarnya adalah hasil pendidikan dari Kurikulum Computational Thinking dan Compassion.

Itu adalah dampak dari penambahan 2 C, yaitu Computational Thinking dan Compassion dalam K-13, yang sudah diantisipasi oleh Mas Nadiem yang secara bersamaan juga akan mengeluarkan kebijakan lainnya yang salah satunya adalah mengembangkan pendidikan yang memprioritaskan pendidikan karakter dan pengamalan pancasila. Kita sebagai guru, kita meyakini bahwa akan terjadi perubahan yang lebih baik bagi dunia pendidikan kita yang kelak akan membuat pendidikan kita disegani dunia. Bismillah !

Semangat baru di awal tahun 2021.

Magetan, 2021

Eko Adri Wahyudiono
Guru SMA 1 Magetan, Jawa Timur

Tinggalkan Balasan